Handuk merah
Pagi di desa selalu sama: ayam berkokok, embun masih menempel di rumput, dan antrian mandi di kamar mandi umum yang cuma satu untuk beberapa rumah.
Aku tinggal di rumah pak RT, kamar belakang yang sempit, jendela menghadap ke samping. Dari situ aku bisa melihat halaman tetangga.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, dia muncul.
Hanya handuk merah yang dililitkan di pinggang, rendah, hampir longgar.
Kulitnya masih basah dari keringat malam atau dari tidur yang panas. Otot perutnya kencang, bukan otot gym yang dipaksakan, tapi otot orang yang biasa kerja di sawah, angkat kayu, dan jalan jauh. Dada bidang, bahu lebar, leher tegap.
Rambut basah menempel di pelipis. Dia berdiri antri, kadang mengucek mata, kadang mengucek perut, handuk bergeser sedikit setiap kali dia bergerak.
Aku berdiri di jendela, tersembunyi di balik korden yang sudah sobek. Kontolku sudah keras sebelum aku sempat bernapas.
Lekuk pinggangnya, garis V yang menghilang ke dalam handuk, otot paha yang menonjol setiap kali dia bergeser. Aku meremas diri sendiri di dalam celana pendek, pelan, takut ketahuan.
KKN di desa terpencil memang membosankan. Air susah, sinyal hampir tidak ada, malam hanya suara jangkrik dan dengungan listrik yang sering mati. Tapi pagi-pagi seperti ini membuat semua itu terasa tidak penting.
Suatu pagi handuknya longgar. Dia sedang menggaruk leher, lalu meraih ember. Handuk turun sedikit. Pangkal kontolnya terlihat, tebal, sudah agak tegang karena pagi. Dia tidak peduli. Atau mungkin dia tahu ada yang melihat.
Aku tidak tahan. Aku keluar, pura-pura mau antri juga, membawa gayung dan sabun. Dia menoleh. Matanya sipit, wajah manis, senyum tipis.
“Antri juga, mas?” suaranya rendah, masih serak.
Aku mengangguk. Jarak kami dekat. Bau sabun dan keringatnya bercampur. Handuk merah itu hanya sehelai kain. Aku bisa melihat bentuknya dengan jelas sekarang, menekan kain dari dalam.
Antrian lama. Tidak ada orang lain pagi itu. Hanya kami berdua di depan kamar mandi yang pintunya sudah terbuka.
Dia masuk dulu. Air dari ember dituang ke tubuhnya. Suara air jatuh ke lantai semen. Aku berdiri di luar, kontolku sudah basah di ujung. Dia tidak menutup pintu rapat. Melalui celah, aku melihat punggungnya, pantat kencang, handuk sudah dilepas dan digantung.
Dia menoleh ke belakang, ketemu mataku.
Tidak ada yang bilang apa-apa.
Aku masuk. Pintu kutarik. Ruangan sempit, uap hangat, satu ember air. Dia berdiri telanjang, kontolnya sudah tegak, tebal, uratnya kelihatan. Aku menelan ludah.
Dia mendekat, tangan kasarnya meraba dadaku, lalu turun ke perut, lalu meremas kontolku di luar celana.
“Dari kemarin kamu ngintip,” katanya pelan, hampir ketawa.
Aku tidak bisa jawab. Dia berlutut, menurunkan celanaku. Lidahnya hangat, basah, menelan seluruhnya sampai pangkal. Aku pegangan di dinding yang licin. Dia mengisap dalam, pelan dulu, lalu lebih cepat, tangan memegang pantatku. Aku hampir keluar di mulutnya, tapi dia berhenti, berdiri, memutar badanku ke dinding.
Kontolnya menekan dari belakang, basah, panas. Dia masuk pelan, satu dorongan dalam. Aku menggigit bibir supaya tidak berteriak.
Dia bergerak, pelan dulu, lalu lebih dalam, tangan memegang pinggangku, dada menempel di punggungku. Handuk merah masih tergantung di paku, basah.
Kami selesai cepat, terburu-buru, takut ada yang datang. Dia keluar di punggungku, hangat, kental. Aku menyentuh sendiri sampai keluar ke lantai.
Kami berpakaian tanpa banyak bicara. Dia kenakan lagi handuk merah itu, tersenyum kecil, lalu keluar duluan seolah tidak terjadi apa-apa.
Pagi berikutnya dia masih antri dengan handuk yang sama. Kali ini pintunya dibiarkan sedikit lebih terbuka.
KKN tetap membosankan. Air tetap susah. Internet tetap tidak ada. Tapi setiap pagi, handuk merah itu sudah cukup.

Posting Komentar untuk "Handuk merah"