Pulang yang Tak Direncanakan
Aku sedang melipat kaus-kaus di atas kasur ketika mataku menangkap Aldi di sudut kamar.
Dia duduk memeluk lutut, punggungnya membungkuk seperti orang yang kehilangan arah.
Di luar jendela, suara anak-anak kos lain sudah ramai bersiap mudik. Tas-tas besar, kardus-kardus berlabel “Buah Tangan”, dan tawa ceria. Aldi hanya diam.
“Kamu nggak mudik?” tanyaku pelan.
Dia menggeleng tanpa menoleh. “Tiket mahal. Tiket pesawat lebih mahal lagi. Lagian… rumah jauh.”
Rumahnya di pulau seberang, kapal dan pesawat jadi satu-satunya jalan. Aku tahu dia sudah hitung-hitungan berulang kali sampai akhirnya menyerah.
Aku menutup tas lipatanku, lalu berjalan mendekat.
“Mau ikut mudik ke rumahku aja?”
Dia menoleh cepat, alisnya terangkat.
“Enggak usah, malu. Aku ngerepotin.”
“Rumahku cuma beda kota dari sini. Naik kereta tiga jam. Nggak repot. Lagian kasihan, kamu sendirian di kos sepi gini. Semua pada pulang.”
Dia diam lama. Matanya menatap lantai vinyl yang sudah agak mengelupas. Akhirnya dia mengangguk kecil, hampir tak terlihat.
Malam itu kami naik kereta ekonomi. Kursi sempit, bau kopi instan dan roti tawar.
Aldi duduk di dekat jendela, menatap keluar meski hanya gelap. Aku pura-pura tidur, tapi sesekali membuka mata dan melihat bahunya yang lebar itu naik-turun pelan. Seperti menahan sesuatu.
Sampai di stasiun kecil dekat rumah, Bapak sudah menjemput dengan motor butut.
Ibu menyambut di teras dengan senyum lebar dan segelas teh hangat.
“Temen kuliahmu ya? Ganteng sekali,” bisik Ibu sambil menyikutku.
Tetangga-tetangga yang lewat juga berhenti, memandang Aldi dari ujung kepala sampai kaki.
Posturnya tegap, lengan berotot terlihat jelas di balik kaus oblong sederhana.
Suaranya dalam saat menyapa, “Assalamualaikum, Pak, Bu. Maaf mengganggu.”
Malam-malam Ramadan kami pergi taraweh ke musala kampung. Begitu Aldi masuk, bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu siapa? Anak si Aji?”
“Bukan, katanya temennya anaknya Mbak Rina.”
Aku tersenyum kecil. Biasanya aku yang jadi pusat perhatian karena “anak kota”, tapi malam itu pamorku kalah telak.
Malam takbiran tiba. Suara bedug dan takbir menggema dari segala penjuru desa.
Aku keluar ke teras, mendapati Aldi sudah duduk di tangga paling bawah. Kepalanya menunduk, tangannya mencengkeram lutut. Matanya basah.
Aku tahu dia sedang ingat rumahnya yang jauh, ibunya yang pasti sedang menyiapkan opor, adik-adiknya yang pasti berlarian minta baju baru.
Aku turun pelan, duduk di sampingnya. Tanpa kata, aku merangkul bahunya. Tubuhnya kaku sejenak, lalu perlahan melemas.
“Aku di sini,” bisikku.
Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil.
Larut malam, di kamar yang sempit, kami berbagi satu kasur.
Aldi tidur membelakangiku. Aku mendengar isaknya yang ditahan. Pelan, tapi menusuk.
Aku mendekat. Lenganku melingkar dari belakang, dada menempel punggungnya yang lebar.
Tubuhnya menegang sesaat, lalu berbalik perlahan. Wajahnya basah. Matanya merah. Dia menatapku seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Aku tarik dia ke dadaku. Dia menempel erat, tangisnya pecah di sana. Bahunya bergetar hebat.
Aku mengusap punggungnya pelan, berulang-ulang, seperti menenangkan anak kecil.
“Maaf,” katanya parau di sela isak. “Aku nggak biasa gini.”
“Aku juga nggak biasa,” jawabku sambil mencium puncak kepalanya. “Tapi aku senang kamu di sini.”
Dia diam. Tangisnya perlahan reda. Tapi pelukannya tidak lepas. Malah semakin erat.
Di luar, takbir masih bergema. Di dalam, hanya ada detak jantung kami berdua yang saling mengejar.
Malam itu, di antara suara takbir dan aroma rendang dari dapur, aku tahu sesuatu telah berubah.
Bukan lagi sekadar teman satu jurusan, satu kamar kos. Aldi bukan lagi cowok muscle yang selalu terlihat kuat.
Dia adalah orang yang memilih menangis di pelukanku.
Dan aku adalah orang yang bersedia jadi tempat pulangnya, meski hanya sementara.


Posting Komentar untuk "Pulang yang Tak Direncanakan"